Kamis, 10 November 2011

KONSEP MAHABBAH (CINTA)

KONSEP MAHABBAH ( CINTA )


Secara etimologi, mahabbah adalah bentuk masdar dari kata:حب  yang mempunyai  arti: a) membiasakan dan tetap, b) menyukai sesuatu karena punya rasa cinta. Dalam bahasa Indonesia kata cinta, berarti: a) suka sekali, sayang sekali, b) kasih sekali, c) ingin sekali, berharap sekali, rindu, makin ditindas makin terasa betapa rindunya, dan d) susah hati (khawatir) tiada terperikan lagi.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa mahabbah (cinta) merupakan keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yang lain atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun dengan pengorbanan.
Sedangkan secara terminologi, terdapat perbedaan defenisi di kalangan ulama. Pendapat kaum Teologi yang dikemukakan oleh Webster bahwamahabbah berarti; a) keredaan Tuhan yang diberikan kepada manusia, b) keinginan manusia menyatu dengan Tuhan, dan c) perasaan berbakti dan bersahabat seseorang kepada yang lainnya. Pengertian tersebut bersifat umum, sebagaimana yang dipahami masyarakat  bahwa ada mahabbahTuhan kepada manusia  dan sebaliknya, ada mahabbah manusia kepada Tuhan dan sesamanya.
Imam al-Gazāli mengatakan bahwa mahabbah adalah kecenderungan hati kepada sesuatu. Kecenderungan yang dimaksud oleh al-Gazali adalah kecenderungan kepada Tuhan karena bagi kaum sufi mahabbah yang sebenarnya bagi mereka hanya mahabbah kepada Tuhan. Hal ini dapat dilihat dari ucapannya, “Barangsiapa yang mencintai sesuatu tanpa ada kaitannya dengan mahabbah kepada Tuhan adalah suatu kebodohan dan kesalahan karena hanya Allah yang berhak dicintai.”
Sementara itu, Harun Nasution (w.1998 M) mengemukakan bahwamahabbah mempunyai beberapa pengertian:
  1.      Memeluk  kepatuhan   pada Tuhan dan membenci sifat melawan pada-Nya. 
  2.      Menyerahkan  seluruh diri kepada yang dikasihi. 
  3.     Mengosongkan hati dari segala-galnya kecuali dari  diri yang dikasihi. Yang dimaksud dengan  kekasih ialah Allah.
Pengertian tersebut di atas sesuai dengan tingkatan kaum muslimin dalam pengalamannya terhadap ajaran agama, tidak semuanya mampu menjalani hidup kesufian, bahkan hanya sedikit saja yang menjalaninya, yang terbanyak adalah kelompok awam  mahabbah-nya termasuk pada pengertian yang pertama. Sejalan dengan itu, al-Sarraj (w. 377 H) membagi mahabbahkepada  tiga tingkatan yaitu:  
  1. Cinta biasa, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan zikir, senantiasa menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalm berdialog dengan Tuhan. 
  2. Cinta orang siddiq, yaitu orang yang kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya tabir yang memsahkan diri seseorang dari Tuhan dan denagn demikian dapat melihat rahasia-rahasia pada Tuhan 
  3. Cinta orang ‘arif, yaitu mengetahui betul Tuhan, yang dilihat dan yang dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya  sifat-sifat yang  dicintai  masuk ke dalam ciri yang mencintai.
Terlepas dari banyaknya penjelasan mengenai defenisi dan “seluk-beluk” cinta atau mahabbah tersebut, namun yang pasti, mahabbah pada dasarnya merupakan sebuah sikap operasional. Dengan kata lain, konsep mahabbah(cinta kepada Allah) adalah salah satu ajaran pokok yang memungkinkan Islam membawa rahmat bagi seluruh isi alam. Cinta pada hakikatnya bukanlah sebutan untuk emosi semata-mata yang hanya dipupuk di dalam batin saja, akan tetapi ia adalah cinta yang memiliki kecenderungan pada kegiatan nyata sekaligus menjadi sumber keutamaan moral.
Hanya saja dalam perjalanan sejarah umat Islam, term “cinta” atau “mahabbah” telah menjadi salah satu pokok pembicaraan orang-orang sufi. Mereka menggeser penekanan cinta kea rah idealism emosional yang dibatinkan secara murni. Sehingga di kalangan sufi, mahabbah adalah satu istilah yang hampir selalu berdampingan dengan makrifat, baik dalam penempatannya maupun dalam pengertiannya. Kalau makrifat merupakan tingkat pengetahuan tentang Tuhan melalui hati, sedang mahabbah adalah merupakan perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui cinta. Seluruh jiwa terisi oleh rasa kasih dan kasih dan cinta kepada Tuhan. Rasa cinta yang tumbuh dari pengetahuan dan pengenalan kepada Tuhan, sudah sangat jelas dan mendalam, sehingga yang dilihat dan dirasa bukan cinta, tetapi”diri yang dicintai”. Oleh karena itu menurut  al-Gazali, mahabbah itu adalah manifestasi dari makrifat kepada Tuhan.
Demikian cintanya orang-orang sufi kepada Tuhan, mereka rela mengorbankan dirinya demi memenuhi keinginan Tuhannya. Olehnya itu, cinta atau mahabbah pada hakikatnya adalah lupa terhadap kepentingan diri sendiri, karena mendahulukan kepentingan yang dicintainya yaitu Tuhan.Mahabbah adalah suatu ajaran tentang cinta atau kecintaan kepada Allah. Tetapi bagaimana bentuk pelaksanaan kecintaan kepada Allah itu tidak bisa dirumuskan secara pasti karena hal itu menyangkut perasaan dan penghayatan subyektif tiap sufi.
Konsep Mahabbah Rabi’ah al-‘Adawiyyah
Rabi’ah al-‘Adawiyyah dengan ajaran pokoknya al-hubb al-ilahi (Mahabbah)  erat kaitannya dengan  konsep  Islam itu sendiri serta jiwa yang terkandung di dalamnya. Konsep mahabbah Rabi’ah al-‘Adawiyyah  sesuai dengan beberapa firman Allah dalam al-Qur'an:
يأيهاالذين أمنوا من يرتد منكم  عن دينه , فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه ...
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan  suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya ...”
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعونى  يحببكم الله ويعفرلكم ذنوبكم والله غفور رحيم
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar ) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampung lagi Maha Penyayang”.
...  يحبونهم كحب الله. والذين  ءامنوا أشدحبا لله ...
“. . . Mereka mencintainya sebagaimana  mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. ...”
Kalau diperhatikan ketiga ayat tersebut menunjukkan bahwa mahabbah  merupakan realisasi dari iman. Dengan iman, seseorang dapat mencintai Allah sebagai cinta tingkat tertinggi dalam hidup ini. seperti cinta Rabi’ah al-‘Adawiyyah kepada Allah.
Sebagaiman disebutkan di atas bahwa Rabi’ah al-‘Adawiyyah dalam mengawali perjalanan mistiknya, ia mengajarkan dan memang mengamalkan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah karena hal tersebut merupakan syarat mutlak sebagai hamba-Nya. Ini sesuai dengan kandungan ayat-ayat di atas. QS. Al-Maidah  5/54 misalnya, al-Alusi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat yuhibbunahu adalah mereka selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Demikian pula seperti yang disebutkan dalam QS. Ali Imran 3/31, kata al-hub dimaknai khususnya di kalangan ulama sufi sebagai sebuah perasaan yang terkait dengan zat Tuhan dan semestinya seorang pencinta mencintai Tuhan karena zat-Nya bukan karena pahala-Nya atau kebaikan-Nya karena cinta tersebut karena kebaikan-Nya menempati derajat yang lebih rendah dibandingkan dengan cinta karena Zat-Nya.

Kepustakaan:
As Asmaran,  Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: Grafindo Persada, 1994, Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Proyek Peningkatan Prasarana dan sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN Jakarta, Ensiklopedi Islam di Indonesia (Jakarta: Anda Utama, 1993, Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi, Kitab al-Luma, Mesir: Dar al-Kutub al-Hadisah, Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariyah, Mu’jam Maqayis al-Lugah, Beirut: Dar al-Fikr,1991, Departemen Pendidikan dan kebudayaan,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989, Noah Webster,Webster’s Twentieth Century Dictionary of English Language, USA: Willian Calling Publisher’s, 1980.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar